Beranda > C, Pahlawan > PERJUANGAN CUT NYAK DHIEN

PERJUANGAN CUT NYAK DHIEN

Kekecewaan dan kesedihan sebagai akibat ditinggal suaminya dan darah kepahlawanan yang mengalir dari keluarganya menjadi dasar yang kuat bagi perjuangan Cut Nyak Dhien, bahkan ia pernah berjanji akan bersedia kawin dengan laki-laki yang dapat membantunya untuk menuntut bela terhadap kematian suaminya (Hazil, 1952: 43).

Adalah suatu hal yang tepat apabila kemudian datang laki-laki yang bersedia, membantu Cut Nyak Dhien membalaskan dendamnya kepada Belanda dengan melakukan perjuangan dalam peperangan. Setelah beberapa bulan menjanda, ia dipinang oleh Teuku Umar yang kebetulan adalah cucu dari kakek Cut Nyak Dhien sendiri. Teuku Umar yang berjiwa muda, keras dan jalan pikirannya yang tidak mudah diduga-duga, berbeda dengan Cut Nyak Dhien yang lembut, agung, bijaksana, tabah dan sabar. Dua pribadi yang bertolak belakang. Mulanya Cut Nyak Dhien menolak pinangan itu, tetapi karena Teuku Umar memberi restu apabila Cut Nyak Dhien ikut dalam peperangan secara langsung, ketimbang di rumah saja.

Bersatunya dua kesatria ini mengobarkan kembali semangat juang rakyat Aceh. Kekuatan yang telah terpecah kembali dipersatukan. Belanda di Kutaraja mendengar juga pernikahan antara Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Uleebalang yang memihak Belanda merasa kecut juga mendengar pernikahan mereka. Adapun Tgk Chik di Tiro dan kawan-kawan seperjuanganya amat mendukung pernikahan mereka. Apalagi mereka berdua terjun langsung ke dalam medan peperangan.

Bukti dari ampuhnya persatuan kedua pejuang Aceh ini adalah dapat direbut kembali wilayah VI mukim dari tangan Belanda. Cut Nyak Dhien dapat pulang ke kampung halamannya lagi. Ketika itu ayah Cut Nyak Dhien, Nanta, sudah sangat tua. Oleh karena itu, Cut Rayut diangkat menjadi uleebalang pengganti Nanta. Namun sesungguhnya, pengangkatan ini hanya sekedar kamuflase saja. Dengan diangkatnya Cut Rayut sebagat uleebalang, Cut Nyak Dhien akan bebas menjalankan politik dalam perjuangan Aceh. Kemudian, Cut Nyak Dhien kembali membangun rumah tangganya dengan Teuku Umar di Lampisang. Rumah ini menjadi markas pertemuan para tokoh pejuang dan alim ulama yang mengobarkan semangat jihad fisabilillah.

Rumah peninggalan Cut Nyak Dhien

Selama Cut Nyak Dhien mendampingi Teuku Umar banyak hal yang dapat dijadikan sebagai sebuah pengalaman yang menarik. Teuku Umar adalah sosok pejuang rakyat yang unik, ia dicintai rakyat tetapi la pernah dibenci juga. Taktik Teuku Umar di dalam peperangan menghadapi Betanda tergolong “aneh” bagi orang lain dan juga Cut Nyak Dhien. la pernah membantu Belanda, atas permintaan Gubernur Aceh Loging Tobias, untuk membebaskan Kapal Inggris yang terdampar kemudian disita oleh Teuku Imam Muda Raja Tenom. Namun pada saat itu terjadi penyerangan terhadap awak kapal yang dilakukan oleh anak buah Teuku Umar. Sesudah peristiwa tersebut Teuku Umar kembali ke Lampisang dan ia tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Karena itu Belanda kembali bersatu dengan pejuang Aceh, tetapi pejuang Aceh tidak yakin tekad baik Teuku Umar. Persoalan ini selesai setelah kapal Nisiero baru dapat diselesaikan setelah Belanda membayar tebusan sebesar 100.000 dollar kepada Raja Tenom (Reid, 1969: 218-249).

Kejadian lain adalah ketika pada tanggal 14 Juni 1886 Teuku Umar kembali mengadakan serangan terhadap kapal Hok Canton. Kapal ini berlabuh di pantai Rigaih. Waktu itu Hansen beserta istrinya dan juru mudi Faya ditawan. Karena Hansen meninggal, maka istrinya dan Faya dibawa ke gunung. Belanda berusaha untuk mencari kontak dengan Teuku Umar, tetapi tidak ada hasilnya. Sekali lagi Gubemur Aceh menyerahkan tebusan sebesar 25.000 dollar (Sartono Kartodirdjo, 1977: 219-220). Kali ini uang itu diberikan kepada Teuku Umar. Oleh Teuku Umar, uang itu dibagi-bagikan kepada para pejuang Aceh sebagai bukti kesetiannya kepada Aceh.

Namun kemudian ada hal yang membuat pejuang Aceh tercengang kembali. Pada tanggal 30 September 1893 Teuku Umar beserta pasukannya yang berkekuatan 250 orang secara resmi menyatakan tunduk kepada gubenur Belanda di Kutaraja. Teuku Umar bersedia membantu Belanda untuk mengamankan Aceh. Karena itu Pasukannya diberi perlengakapan yang cukup. Teuku Umar sendiri diangkat sebagai panglima dengan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Rumahnya di Lampisang dibangun oleh pemerintah Belanda. Bentuknya disesuaikan dengan bentuk rumah seorang pejabat, lengkap dengan taman dan kebun serta fasilitas lainnya (Ibrahim, 1996: 51). Teuku Umar kemudian menjalankan tugas dari Belanda untuk merebut daerah-daerah yang masih dikuasai oleh pejuang Aceh, yang berhasil dijalankan dengan baik oleh Teuku Umar. Namun dalam kenyataannya, apa yang dilakukan oleh Teuku Umar tersebut merupakan sebuah sandiwara besar yang dibuatnya bersama dengan istrinya, Cut Nyak Dhien.

Oleh karena itu, setelah tidak beberapa lama kemudian (kurang lebih 3 tahun), Teuku Umar pada tanggal 29 Maret 1896 ia kembali membawa pasukannya untuk bergabung kembali dengan pejuang Aceh beserta perlengkapan persenjataan pemberian Belanda. Mengetahui tindakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Teuku Umar, Belanda mencabut jabatan sebagai panglima perang, gelar kebesaran “Johan Pahlawan” dan menyatakan perang terhadap Teuku Umar. Rumahnya di Lampisang dibakar dan dihancurkan oleh Belanda.

Akhirnya, Teuku Umar beserta Cut Nyak Dhien pergi ke daerah Barat Aceh dan bertempur habis-habisan melawan Belanda. Selama itu pula Belanda terus mengejar keberadaan pasukan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar berniat menyerang kedudukan Belanda di Meulaboh. Ternyata rencana Teuku Umar ini telah diketahui oleh pihak Belanda. Belanda menanti pasukan Teuku Umar di daerah Suak Ujung Kalak Meulaboh. Di daerah ini kemudian menjadi daerah pertempuran. Teuku Umar sahid tertembak peluru dari pihak Belanda. Jenazahnya dibawa oleh pasukan Aceh ke daerah lain (Ibrahim, 1996: 68). Kematian Teuku Umar didengar oleh Cut Nyak Dhien. Walaupun Teuku Umar telah sahid, Cut Nyak Dhien tidak menyerah kepada Belanda. la bertekad untuk melanjutkan perjuangan Teuku Umar.

Cut Nyak Dhien dan para pengikutnya

Sejak terjunnya Cut Nyak Dhien ke arena peperangan secara langsung, bukan hanya ratusan korban yang timbul, tetapi ribuan jiwa dan jutaan uang. Sebagai pemimpin ia tidak pernah merasa lelah dan takluk. la seorang yang fanatik dan tabah. Mampu merasakan pahit perjuangan bersama-sama dengan pengikutnya. Masuk dan keluar belantara, naik dan turun gunung hingga ia uzur dan rabun tetap rencong terselip di pinggangnya dan siap terhunus untuk musuhnya.

Cut Nyak Dhien juga mendapat dukungan yang begitu besar dari teman-teman seperjuangan, setiap saat ia selalu memberikan semangat untuk memerangi kaphe kompeni melalui fatwa yang dikeluarkannya. Senandung syair-syair perang sabil selalu dikumandangkannya. Cut Nyak Dhien didukung oleh uleebalang Meulaboh, Datuk-datuk, penghulu dan lain-lain. Mulai dari yang tinggi sampai rakyat biasa dapat dipengaruhi oleh Cut Nyak Dhien supaya memihaknya. Tulisan C. Van der Pal (Said, 1961) menyatakan bahwa:

“Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nyak Dhien sendiri. Serangan-serangan kelewang yang hebat-hebat dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas perintah Cut Nyak Dhien sendiri. Untuk selanjutnya segala perjuangan yang ada di Aceh, terutama di Aceh Besar adalah menurut petunjuknya”.

Tokoh-tokoh besar yang mendampingi perjuangan Cut Nyak Dhien diantaranya Teuku Ali Baet menantunya, merupakan orang yang aktif membantu Cut Nyak Dhien, baik dengan uang maupun senjata. Teuku Raja Nanta, adik dari Cut Nyak Dhien, yang selalu bersama-sama bergerilya mengarungi rimba. Namun kemudian berpisah karena keadaan semakin sulit akibat kepungan-kepungan Belanda. Teuku Raja Nanta terus bergerilya di pedalaman Meulaboh, dan akhimya mati Syahid pada saat kepergok dengan pasukan Belanda. Pendukung Cut Nyak Dhien lainnya yaitu Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglimn Polim yang terus mengobarkan perang sabil di daerah Pidie.

Teuku Mayet di Tiro dan Cut Gambang anak dan menantunya yang hingga Cut Nyak Dhien berada dalam pembuangan tetap melakukan gerilya di hutan belantara Tangse dan mati syahid dalam pernyerbuan Betanda dibawah komando Schmidt di bulan Agustus 1910. Banyak lagi pejuang-pejuang lainnya yang menjadi Pendukung perjuangan Cut Nyak Dhien.

Sebaliknya Belanda juga tidak henti-hentinya mengejar kemanapun gerilyawan Cut Nyak Dhien dan pengikutnya diperkirakan berada serta, terus diadakan penggerebekan dan penyerbuan-penyerbuan. Cut Nyak Dhien berusaha keras untuk menghindarkan diri dan setiap usaha tentara Belanda untuk menangkapnya dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tempat persembunyiannya tidak pernah diketahui oleh masyarakat biasa, banyak ketentuan-ketentuan yang diberlakukan, diantaranya penyamaran dan memakai anak-anak kecil sebagai mata-mata. Persembunyiannya hanya terbuat dari gubuk yang ditutupi dedaunan, dilarang pemakaian api karena dapat memberikan petunjuk dengan adanya kepulan asap. Tempat menuju ke persembunyiannya dibuat menyesatkan, untuk menjaga keselamatan diadakan penjagaan oleh pengikut-pengikutnya secara bergantian.

Sebagai seorang yang telah terbiasa oleh suasana perang mulai dari pengalaman orang tua dan suaminya Teuku Cik Ibrahim dan Teuku Umar, dan juga beberapa orang saudaranya yang lain, memberikan rasa dendam dan ketegaran yang cukup mengakar di dalam batinnya. Cut Nyak Dhien adalah seorang ibu dan seorang pemimpin di mata rakyat, memberikan ketenteraman dan harapan¬-harapan di dalam hati rakyat untuk sebuah kemerdekaan dan kedamaian.

Ada dua orang Belanda yang cukup terkenal pada masa perjuangan Cut Nyak Dhien yaitu Van Heutsz dan Van Daalen. Banyak sudah korban berjatuhan, selama Van Heutsz memimpin tentara di Aceh (1898-1904), kerugian yang diderita oleh rakyat Aceh telah berjumlah 20.600 orang. Pada tanggal 8 Februari 1904 Van Daalen melakukan perjalanan panjang (long march) selama 163 hari ke pedalaman Aceh. la disertai 10 brigade marsose. Tujuannya untuk menumpas habis perlawanan rakyat Aceh yang masih aktif di Tanah Gayo (Aceh Tengah dan Aceh Tenggara). Selama perjalanan itu beberapa daerah pejuang Aceh berhasil ditaklukan.

Akibatnya ruang gerak gerilyawan semakin terbatas, meskipun demikian semangat perlawanan Cut Nyak Dhien tidak pernah padam, tetapi pendukungnya semakin melemah kekuatannya, baik secara fisik maupun mental. Secara fisik terlihat dengan situasi yang serba kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Untuk memperoleh makanan gerilyawan tidak lagi bebas berkeliaran di desa-desa karena setiap gerak-gerik yang mencurigakan ditangkap oleh marsose. Mereka hanya memakan daun dan umbi-umbian yang ada di dalam hutan, dan berteduh pada gubuk-gubuk darurat yang siap untuk ditinggalkan guna menghindari pengejaran kompeni.

Mental mereka juga mengendur dengan adanya penghacuran-penghacuran yang dilaksakan oleh kompeni terhadap kubu-kubu pertahanan tanpa meninggalkan satu manusia pun tersisa. Selain itu, sering pula dilakukan penyandraan terhadap istri dan anak-anak mereka agar, gerilyawan itu menyerahkan diri, dan mop seperti ini tampanya sangat mengena.

Cut Nyak Dhien menderita bersama pengikut-pengikutnya tanpa apapun yang dialaminya. Harta benda habis pada suatu penyerbuan yang tiba-tiba dari pihak Belanda di bulan April 1905.

Seharusnya Belanda dapat menemukan Cut Nyak Dhien di tempat persembunyiannya, tetapi karena ketangkasannya Cut Nyak Dhien dapat melarikan diri, tetapi barang- barang perbekalan dan perhiasan tidak sempat dibawa. Hal ini mengakibatkan berkurangnya alat-alat pembantu yang dibutuhkan setiap gerilyawan.

Selama enam tahun Cut Nyak Dhien memimpin perjuangan bersama pengikutnya. Kerentaan karena usia, penyakit encok, dan rabun melemahkan tubuhnya. Sumber makanan yang tidak pasti karena benar-benar telah habis. Penderitaan yang begitu berat membuat iba Pang Laot selaku panglimanya. Suatu saat pernah disampaikannya perasaan ini kepada Cut Nyak Dhien untuk menghentikan perlawanan. Kemarahan, kemurkaan, dan caci maki yang diterima oleh Pang laot dari Cut Nyak Dhien, dengan suara keras dan murka Cut Nyak Dhien berkata: Lebih baik aku mati di rimba ini daripada menyerah kepada kafir.

Walaupun demikian Pang Laot dengan berat hati mengkhianati Cut Nyak Dhien. la memutuskan untuk melapor kepada Belanda. Pang Laot memunculkan diri di bivak Belanda yang dipimpin oleh Letnan Van Vuuren. Kehadirannya memunculkan kecurigaan, tetapi karena Pang Laot datang untuk berunding dan menyerahkan Cut Nyak Dhien, maka Letnan Van Vuuren menyambut baik kedatangannya. Van Vuuren membawa Pang Laot kepada atasannya Van Veltman. Perundingan diadakan, Pang Laot bersedia menyerahkan Cut Nyak Dhien dengan syarat Cut Nyak Dhien harus dijaga sebaik-baiknya, perundingan pun disepakati.

Atas kesepakatan bersama Pang Laot mencari Cut Nyak Dhien ke Pameue. Pada tanggal, 23 Oktober 1905 Van Veltman mengerahkan pasukannya sebanyak 6 brigade (satu brigade sebanyak 20 bayonet). Pencariaan pertama masih mengalami kegagalan. Pada suatu tempat di dalam rimba yang diperhitungkan gubuk milik Cut Nyak Dhien diadakan penyergapan. Walaupun kedatangan pasukan marsose yang mengejutkan pasukan Cut Nyak Dhien yang tinggal sedikit jumlahnya masih sempat melakukan perlawanan. Perlawan yang tidak berimbang dan tergesa-gesa mengakibatkan banyaknya timbul korban. Panglima Habib Panjang yang saat itu ditugaskan Cut Nyak Dhien menjaga disitu tewas ketika hendak menyelamatkan anak buahnya (Said, 1961).

Perjalanan untuk pencarian Cut Nyak Dhien dilanjutkan, Pang laot dan Van Veltman memutuskan untuk mencarinya ke hutan-¬hutan Beutong. Untuk menempuh tempat ini tidaklah mudah harus naik turun gunung dan melewati hutan-hutan besar. Tiga hari lamanya perjalanan baru mencapai Beutong. Itu pun Van Veltman dan pasukannya tidak menemukan apa-apa, semua jejak telah dihapus. Pang Laot mengusulkan untuk menunggu hingga bekal habis.

Pada 7 Nopember 1905, di saat seorang anak kecil kurir Cut Nyak Dhien tertangkap oleh Pang laot, maka terungkaplah dimana pondok persembunyian Cut Nyak Dhien. Gerak cepat Van Veltman memerintahkan anak buahnya untuk menyerang pondok tersebut. Saat itu Cut Nyak Dhien sedang bersama Cut Gambang. Perlawanan tetap dilakukan, Cut Gambang sempat melarikan diri dengan luka di dadanya (Said, 1961).

Cut Nyak Dhien sudah begitu uzur, matanya rabun, berjalan pun hanya ditandu oleh pengawalnya. Amarahnya begitu memuncak kepada Pang Laot dan Kompeni. Caci maki dan sumpah serapah dilontarkan Cut Nyak Dhien kepada keduanya. Van Veltman menberikan rasa hormat kepada Cut Nyak Dhien, tetapi Cut Nyak Dhien merasa ini tidak ada artinya sama sekali, karena ia merasa lebih baik mati dari pada harus tunduk kepada kompeni.

Sesuai dengan kesepakatan antara Pang Laot, Letnan Van Vuuren dan Kapten Van Veltman maka Cut Nyak Dhien dibawa ke Kutaradja. Cut Nyak Dhien diperlakukan sebagaimana layaknya seorang Puteri bangsawan dengan makanan, pakaian, dan pelayanan yang baik. Simpati rakyat tidak pernah berkurang kepadanya. Dalam tahanan di Kutaradja berganti-gantian rakyat menjenguknya. Hal ini pula yang menimbulkan kecemasan kepada pemerintah kolonial. Van Daalen yang saat itu sebagai Gubernur Belanda di Kutaradja tidak menghendaki suasana ini karena dianggap akan membahayakan, karena kemungkinan antara rakyat dengan Cut Nyak Dhien masih dapat dilakukan. Disebabkan hal di atas pada tahun 1907 Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang. Pada tanggal 6 November 1908 Cut Nyak Dhien meninggal dalam pengasingan jauh dari keluarga dan rakyat yang dicintainya.

Kategori:C, Pahlawan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: